Selasa, 28 Mei 2013

Sejarah Dan Perkembangan Penting Di Tanah Kalimantan

Ada 3 tahap perkembangan penting di Kalimantan; (1) memberadabkan Dayak melalui misi agama (Hindu, Islam dan Kristen) dan politik identitas (Dayak dan Melayu), (2) Kapitalisasi Tanah. Ini terjadi sejak tahun 1960-an sampai sekarang ini. Serta (3) Demokratisasi. Memperkenalkan konsep universalitas-demokrasi-pluralisme, dll dikalangan Dayak.

Memberadabkan Dayak
Sejak awal abad 1, pedagang India membawa ajaran Hindu di tanah Kalimantan. Terjadi barter barang pedagang dengan penduduk. Peralatan Besi dan logam diperkenalkan.

Awal abad 4, pedagang Cina dan Siam masuk. Terjadi barter barang lagi. Diperkenalkan keramik-keramik, guci, manik-manik, dll.

Pada abad 14, pedagang Cina (dipimpin Laksamana Cheng Ho) masuk dengan membawa ajaran Islam di Sambas. Penduduk yang tidak mau masuk Islam menyingkir ke hulu sungai dan pedalaman. Beberapa Raja berhasil masuk Islam setelah pedagang Arab dan Bugis masuk dan melakukan perkawinan dengan gadis setempat. Pan Islam semakin masif di pedalaman. Orang yang tidak mau masuk islam di angkat jadi pegawai kerajaan, dan yang masuk islam diberi identitas baru;”Laut, Senganan, dll”.

Pada masa ini, Pan Chinese masuk melalui Sultan-Sultan yang dikirim dari Brunei untuk menambang emas, khususnya di Monterado (Kabupaten Bengkayang, pen) dan Mandor (Kabupaten Landak, pen). Awalnya koloni ini sedikit, seiring perkembangan perdagangan emas yang semakin baik, Cina dari daratan didatangkan. Mereka mendirikan perusahaan yang dikenal dengan nama Kongsi. Ratusan kongsi bersekutu, sehingga membentuk semacam negara “republik” yakni Lan Fang di Mandor dan Hae Sun di Monterado. Republik ini beberapa kali berperang dengan Sultan dan Orang-Orang Dayak, untuk memperoleh akses sumber daya alam yang melimpah.

Pada abad 16, Kristen masuk melalui pegawai-pegawai kolonial Belanda yang dikirim dari Batavia (Jakarta sekarang, pen). Belanda diundang Sultan yang terdesak dalam peperangan melawan “Republik” Lan Fang dan Hae Sun. Terjadi perjanjian antara keduanya. Hasilnya, Belanda berhasil membubarkan Kongsi-kongsi. Para penambang dan pedagang emas beralih profesi menjadi petani, pekebun dan peternak. Yang tidak mau tunduk pada Belandak, sebagian diantaranya melarikan diri ke Sarawak dan Singapura. Sebagian kecil pulang ke Cina daratan. Pemerintah Belanda memperbolehkan misionaris dan zending masuk pada awal abad 19, didorong oleh masifnya gerakan pan islamisme di perhuluan dan pusat-pusat perdagangan penting. Untuk mempermudah kontrol penduduk, Belanda memberlakukan politik identitas; muslim di sebut Melayu dan non Muslim disebutnya Dayak. Dalam prakteknya, Melayu dikenal sebagai pegawai pemerintah dan Dayak sebagai pembayar pajak setia. Untuk masuk menjadi pegawai, Dayak harus merubah dirinya menjadi Melayu. Dayak yang masuk Melayu dikenal sebagai Senganan, Urakng Laut, dll dan tidak mau mengaku diri sebagai Dayak. Menjelang akhir abad 19, Dayak berusaha melakukan kooptasi, dan berhasil melalui jalur politik; Partai Persatuan Daya. Dayak mulai percaya diri, dan dengan identitas baru; kami orang DAYAK. Tapi situasi ini tak berlangsung lama, kira-kira hanya dua puluh tahun (1941-1966).

Kapitalisasi Tanah. Proses ini mulai terjadi awal tahun 1960-an, ditandai dengan masuknya perusahaan-perusahaan yang mengelola kayu dan membangun perkebunan skala besar. Sertifikasi masal tanah terjadi melalui Jakarta. Undang-Undang dibuat untuk “menaklukan” tanah adat menjadi tanah negara. Jadilah 2,8 juta hektar tanah terkapling oleh ratusan perusahaan negara dan swasta asing. Perubahan besar terjadi pada Orang Dayak. Penduduk dari berbagai pulau berdatangan dan hidup bersama Orang Dayak. Terjadi dinamika sosial yang hebat; asli vs pendatang, untung vs rugi. Ekonomi menjadi jargon utama dalam pembangunan Dayak. Sebuah peradaban baru yang sarat perubahan yang sulit mereka ikuti dengan menguntungkan.


Demokratisasi. Perubahan besar yang terjadi sejak 1960 menyebabkan Orang Dayak mulai diambang kebingungan. Terjadi krisis identitas, krisis kepercayaan diri, dan berbagai krisis lainnya. Tanah dan Hutan semakin menyempit, penduduk mulai heterogen dengan komposisi yang relatif seimbang dan arus gerakan global; demokrasi-universalitas-teknologi. Orang Dayak mengalami kekhawatiran, menjadi asing ditanah sendiri atau mengikat diri untuk ambil bagian dalam perubahan.

Menurut pastor asal Belanda yang sudah menjadi warga Negara RI ini, sebelum Jepang masuk, propaganda mengenai Indonesia cukup kuat masuk didaerah Kalbar (pasti juga termasuk dikampungku). Aktivis Indonesia, katanya, juga keluar masuk kampong, membentuk pengurus dan mencari anggota. Banyak diantara orang kampong yang menjadi pengurus dan anggota. Dari sekian banyak Indonesianis, yang cukup aktiv dan didukung orang sekampung adalah Parindra dan P.A.B (Persatuan Anak Borneo). Pada waktu itu, orang kampong berbicara mengenai agama Katolik, agama Parindra dan agama P.A.B.

Dalam Majalah Battaki, edisi khusus Januari-Maret 1997, Pater yang sudah 49 tahun hidup ditengah orang dayak ini menulis, bahwa keadaan ini berubah drastic sesudah Jepang. Segala-galanya berubah. Orang Dayak, juga mengalami dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan caranya sendiri. Penjajahan Belanda dengan perantara Sultan dan Panembahan telah berakhir.

Orang Dayak (saya “merasa” bagaimana orang dayak ketika itu, ketika membaca buku ini) merasa diri sungguh-sungguh dihargai. Gubernur pertama dan 4 Bupati orang Dayak. Mereka adalah pejabat P.D (partai politik peserta pemilihan umum pertama di Indonesia tahun 1955, yang dibentuk oleh intelektual dayak untuk memperjuangkan orang dayak secara politik). Pembesar-pembesar ini semua beragama Katolik, alumni persekolahan Nyarumkop. Beberapa penyelidikan yang sudah pernah dilsayakan, menyebutkan bahwa mereka dapat diangkat karena mereka memperoleh suatu pendidikan yang baik di seminari menengah, sebelum Jepang.

Sepanjang sejarah Indonesia, Orang dayak (dan juga di kampungku), tidak pernah menuntut republic sendiri. Mereka dengan senang bergabung dalam Republik Indonesia. Aspirasi politik mereka, disalurkan lewat P.D. (Partai Dayak). Pada waktu itu juga, mulai muncul penyadaran bahwa sangat diperlukan suatu penyesuaian dengan zaman modern. Mereka mulai ingin ke sekolah-sekolah.

Mereka juga mulai menganut agama, Katolik. Banyak hal yang mendorong mereka untuk memilih agama ini, mereka sudah kenal dengan pastor-pastor dan suster-suster, yang melayani mereka dengan sungguh, secara khusus di bidang pendidikan dan kesehatan. Rumah-rumah sakit (dan RS Bersalin, pen) yang ada semua dari Gereja Katolik. Sekolah-sekolah kebanyakan sekolah Katolik. Satu hal yang terpenting, Gereja Katolik, menghargai adat, lebih dari agama lain.

Pendeknya, dunia orang dayak mulai terbuka. Dunia luar masuk dan mereka masuk dunia luar. Dan ini terjadi tanpa konflik yang berarti. Belum banyak jalan raya, perubahan terjadi tidak terlalu cepat. Identitas cultural tidak terancam. Dan…..sekitar tahun 1993, terjadi suatu perubahan besar….Ekonomi makro mulai berkembang, infrastruktur pedesaan membaik. Tetapi, keberadaan (kami) sebagai suku dengan identitas sendiri dan tanah sendiri mulai terancam.

Kampungku, yang sebelumnya dilihat sebagai suatu daerah yang kurang berguna, dengan tanah yang kurang subur, mulai dilihat sebagai suatu daerah yang potensial. Tanah ternyata cocok untuk banyak jenis tanaman, persediaan tambang banyak dan bermacam-macam. Sebuah perusahaan perkebunan swasta besar masuk, Rokan Group. Memiliki beberapa anak perusahaan, diantaranya PT Agrina (membuka lahan perkebunan kelapa hibrida seluas ±12.000 Ha di Desa Menjalin dan Desa Raba) serta PT Purna Kahuripan (membuka lahan perkebunan kelapa hibrida dan coklat seluas ±10.000 Ha di Desa Nangka dan Desa Rees).

Sejak itu, kampungku mulai terbuka…..Tetapi, akibat dari cara yang dipakai untuk membuka daerah, mengeksploitasi dan memproduktifkan sumber daya alam, lambat laun, orang di kampungku mulai hilang dari pusat perkembangan itu. Mereka hilang dari tempat dimana diambil keputusan mengenai masa depan tanah leluhurnya. Mereka masuk dalam bahaya besar menjadi orang pinggiran. Dan ini, terjadi karena dorongan dari luar, tetapi juga kelemahan diri mereka sendiri.

Secara umum, Orang dayak (dan juga dikampungku), hamper tidak ada lagi suara di pemerintahan, tidak ada orang dalam militer yang menempati jabatan strategis. Mereka juga tidak memiliki modal. Memang, mereka mempunyai tanah. Tetapi ini mulai diambil dari mereka (demi pembangunan) dengan bermacam-macam cara. Ekonomi dan kepentingan orang tertentu dalam praktek pembangunan menjadi lebih penting daripada keberadaan dan masa depan mereka sendiri. Mereka sering disepelekan dan disisihkan.

Di Borneo Barat, masih ada banyak guru orang dayak. Tetapi situasi inipun akan berubah drastic dalam 20 tahun mendatang. Dengan dihapusnya SGA tahun 1980-an, SPG tahun 1990-an, dan PGSD tahun 2000, kemungkinan untuk orang dayak menjadi guru sangat berkurang. Kalaupun sekarang ada FKIP di universitas negeri, orang dayak sulit masuk. Hanya ada peluang jika pemuda dayak mendaftar di STKIP swasta, tetapi berbiaya mahal. Sekolah-sekolah swasta yang dikelola Gereja Katolik diperkotaan, siswa dan mahasiswa umumnya bukan orang dayak. Sekali lagi, mereka kesulitan.

Orang luar memang pintar. Dengan kekuasaan ditangan, mereka memusatkan dan memperhatikan fasilitas pendidikan, ekonomi, pemerintahan di kota-kota besar, kemungkinan bagi orang dayak, menikmati itu dalam praktek cukup berkurang. Mereka tidak bisa mempergunakan nepotisme, dan juga tidak ada koneksi, tak bias kolusi dan tak punya uang upeti. Dalam praktek, semua bidang, dipusatkan di kota dan diurus oleh orang bukan dayak.

Sejak tahun 1981, berpuluh-puluh orang datang dari kota, keluar masuk kampong. Mereka ini utusan dari berbagai proyek besar pemerintah pusat di Jakarta. Ada proyek P2KP, P3DT, PPK, dll. Ada juga dari berbagai utusan LSM, yang kantornya di kota besar. Hamper setiap bulan, petugas-petugas khusus ini datang ke kampong dan menggurui orang kampong, memperlsayakan mereka sebagai anak yang masih bodoh, sampai orang kampong merasa diri lagi dalam keadaan zaman dulu: sultan atau panembahan dan mereka (dayak) sebagai bawahan.

Selama ini, saya juga menyaksikan langsung pergumulan dikampungku dan kampong-kampung sekitarnya. Dalam pembagian subsidi untuk bidang agama, misalnya, pemerintah memegang “teguh” distribusi uang/proyek untuk bangun rumah Tuhan dengan prosentase 90% islam dan 10% non islam, walaupun di Kalbar menurut statistic pemerintah tahun 1990, 41% Dayak dan 13% Cina. Ini berarti bahwa pasti 54% non-islam. Kelompok-kelompok non dayak mampu dengan bantuan pemerintah membangun rumah ibadat yang bagus, tetapi orang dayak (dan juga dikampungku) sering tidak mampu. Dan ini, sangat mengganggu perasaan keadilan dan kejujuran yang dimiliki oleh orang dayak.

Dan apa yang paling dirasakan oleh orang dayak adalah transmigrasi. Proyek ini telah berlangsung secara resmi sejak tahun 1960, 1970, 1980, 1990, 2000, dan sekarang. Yang tidak resmi (dengan bantuan pemerintah), saya rasakan justru paling besar. Untuk proyek transmigrasi itu, pemerintah menyiapkan tanah (dibebaskan) 2 hektar per keluarga, diberi sertifikat, rumah, jalan raya, puskesmas, rumah ibadat, biaya hidup selama dua tahun, dan lain-lain.

Para transmigran umumnya beragama islam. Mereka ditempatkan disatu tempat dan diisolir mula-mula (cukup lama) dari orang setempat. Dilain pihak, orang dayak disekitar lokasi pemukiman proyek transmigrasi kurang diperhatikan. Tetap dalam kondisi yang sengaja diciptakan sebagai yang tersisih.

Saya juga pernah merasakan sebagai anak transmigrasi. Selama 7 tahun (1982-1989), saya hidup dipemukiman transmigrasi ini. Namanya, proyek transmigrasi local. Tetapi dalam proyek-proyek itu, menurut cerita bapakku, korupsi pelaksana proyek sering begitu merajalela bahkan hamper tidak punya arti lagi bagi warga transmigrasi seperti bapakku. Warga transmigrasi local tidak diberi tanah 2 hektar, tidak ada sertifikat, tidak ada rumah ibadat, tidak ada puskesmas. Yang disediakan hanya rumah, dan biaya hidup selama dua tahun. Setelahnya, warga dituntut untuk mandiri. Akibatnya, mereka menjadi buruh tani (sewa lahan penduduk setempat untuk membuka sawah dan lading), buruh pada perkebunan karet. Lagi-lagi, mimpi untuk keluar dari kemiskinan pupus diera ini.

Saat ini, saya baru dapat mengerti bahwa ketidakpuasan orang dayak dengan situasi, bersama dengan suatu ketakutan besar bahwa terancam hilang dipulau sendiri, dan frustasi karena system dan kekuasaan, menyebabkan mereka terluka yang teramat dalam. Akibatnya, mereka keluar atau meledak dalam kemarahan besar terhadap suku lain, yang dianggap ancaman terdekat (fisik), dan terkadang terjadi berulang-ulang selama puluhan tahun lalu. Saya melihat dan mengalami sendiri ledakan amarah orang dayak ini ditahun 1984, 1987, 1996, 1997 dan 1999.

Kalau dikaji lagi lebih jauh, dari berbagai kerusuhan itu, kenapa umumnya generasi muda (usia SD-perguruan tinggi) banyak terlibat ? menurutku, hal teramat penting adalah karena mereka kecewa dan frustasi dengan situasi yang ada. Sekolah dan tidak sekolah sama-sama sulit untuk mendapat pekerjaan, meskipun proyek-proyek besar ada dikampung mereka.

Kesimpulan
Adat yang mencakup pengertian religi (world-view), norma, dan etika yang selanjutnya diperjelas oleh mitos merupakan pandangan hidup (way of life) bagi masyarakat holtikultural Dayak Salako dalam kehidupannya. Adat bersama mitosnya mempengaruhi dan membentuk sikap serta perilaku individu maupun komunitas terhadap alam dalam sistem kehidupan ini.

Berdasarkan world-view (pandangan dunia)-nya, masyarakat dayak salako mamahami manusia itu sebagai bagian dari alam dalam suatu bentuk sistem kehidupan. Bentuk sistem kehidupan ini merupakan lingkungan hidup bersama dari unsur manusia dan unsur-unsur lain yang non-manusia (organisme dan non-organisme). Kesemua unsur dalam sistem itu memiliki nilai dan fungsinya masing-masing. Pandangan kosmologi tersebut telah berdampak pada pemahaman mereka terhadap hubungan manusia dengan alam yang bersifat antropocosmic, yang berarti manusia dan alam menyatu, tidak terpisahkan, hal ini berimplikasi terhadap korelasi dari unsur-unsur dalam sistem kehidupan itu dimana manusia sebagai salah satu unsurnya tidak pernah memanifestasikan diri mereka sebagai raja penguasa atas alam. Pandangan kosmologi yang demikian itu melahirkan suatu etika lingkungan hidup yang tercakup dalam adat sehingga membuat masyarakat Dayak Salako mempunyai sikap menghargai, menghormati dan bersahabat terhadap alam.

Dengan demikian, manusia tidak dapat bertindak semau-maunya terhadap alam, mengeksploitasi alam sehabis-habisnya demi kepentingan ekonominya. Bagaimanapun juga kesejahteraan hidup manusia secara keseluruhan- termasuk kesejahteraan hidup generasi yang akan datang- tetap akan tergantung dari kesehatan dan kelestarian alam yang menjadi sumber penghidupan dan satu-satunya lingkungan hidupnya. Religi yang telah diwariskan para leluhur dan telah diuji dan dipraktekkan sepanjang sejarah kehidupan mereka sebagai peladang berpindah dan perambah hutan- telah berhasil melestarikan lingkungan hidupnya. Mereka melalui religinya telah berhasil membuat suatu bentuk kehidupan berkelanjutan (sustainable life) dalam kehidupan mereka.

Adat sebagai produk akumulasi dari pengalaman manusia-produk adaptive strategy dalam interaksinya dengan alam agar supaya mereka mampu bertahan hidup (survive)- telah berkembang menjadi budaya disepanjang kehidupan manusia tersebut. melestarikan budaya berarti melestarikan lingkungan hidup karena di dalamnya terdapat etika lingkungan hidup. Mencela budaya karena sifatnya lokal (ketinggalan jaman) berarti mencela para leluhur yang telah mewariskannya yang sekaligus menolak untuk melestarikan lingkungan hidup. Dengan melestarikan budaya maka berarti kita semua – kehidupan manusia dan bumi-akan tetap SUNIO (lestari).

Akhirnya, saya ingin mengingatkan kita semua bahwa contoh-contoh di atas dipilih untuk memberi gambaran bahwa praktek keagamaan yang dilandasi kepercayaan agama asli di kalangan penganut agama-agama besar dunia dan disayai negara Indonesia masih marak. Sekalipun agama asli tidak memiliki hak legalitas tentang keberadaannya namun elemen-elemen tertentu dari agama asli ini masih dipelihara dan dipraktekkan oleh penganut agama dunia ini. Untuk mencari jawab sekitar daya tahan agama asli ini tidaklah terlalu gampang. Secara teori agama asli bisa meresap dan tetap dipelihara di balik agama dunia sebab sejak awal dalam para pewarta agama dunia itu memberi toleransi besar kepada praktek-praktek agama asli itu. Kasus inilah sinkretisme terang-terangan. Bahwa bagaimanapun, agama asli haruslah tetap dihargai sebagai bagian yang takterpisahkan dari peradaban dunia. Untuk mencari jawab sekitar daya tahan agama asli ini tidaklah terlalu gampang.

Secara teori agama asli bisa meresap dan tetap dipelihara di balik agama dunia sebab sejak awal dalam para pewarta agama dunia itu memberi toleransi besar kepada praktek-praktek agama asli itu. Kasus inilah sinkretisme terang-terangan. Bahwa bagaimanapun, agama asli haruslah tetap dihargai sebagai bagian yang takterpisahkan dari peradaban dunia. Tulisan ini sekaligus juga menyanggah bahwa adat Orang Dayak adalah agama, yang dalam ilmu sosiologis dan antropologis digolongkan sebagai agama asli. Dengan demikian, saya boleh katakan bahwa praktek adat bukanlah praktek animisme, sebagaimana yang dikatakan orang luar seperti sekarang ini. Untuk itu, saya menyarankan kiranya diperlukan dialog-dialog antar peradaban, baik penganut agama asli, evangelis protestan maupun katolik pada level komunitas.

Untuk menghindari konflik dikomunitas, saran saya bagi penginjil atau apapun namanya, yang mau menyebarkan agama dikampung ini ada baiknya terlebih dahulu mempelajari dan mendalami mitos-mitos dan upacara-upacara adat serta keagamaan mereka. Kemudian mereka (penginjil,dll) juga harus sanggup merumuskan ajaran-ajaran agamanya sesuai dengan sikap dan pandangan hidup mereka tanpa perlu mengorbankan nilai-nilai hakiki agama yang disebarkannya itu. Dengan demikian agama betul-betul bisa berakar dalam kehidupan masyarakat.

Tantangan
Bagaimanapun juga pengaruh mentalitas pencerahan yang mengglobal ini telah merasuki kehidupan kita, mengubah pandangan kita untuk menjadi tuan dalam segala hal. Masihkan adat, pandangan kosmologi dan mitos-mitos survive (bertahan hidup) ditengah kehidupan generasi muda suku Dayak Salako di era globalisasi sekarang ini? Pertanyaan ini merupakan bahan renungan untuk kita semua, khususnya generasi suku Dayak Salako, mengingat Indonesia tercatat sebagai “Rekot dunia” dalam hal penghancur hutan tercepat di dunia pada tahun 2000 – 2005 (Kompas, Jum’at 4 Mei 2007, silahkan baca lampiran di halaman sebelah).

SALAKO BATO

Traditional Medical Specialists of the Salako Community

Like any other cultures the world over, the minute Salako community of Sarawak, Malaysia, once upon a time has their own “medical specialists”. These “medical fraternity” were usually from the male gender but on rare instances, there do exist their female counterparts which are very far and between. They were supposed and believed to have the capabilities of curing all sorts of aliments ranging from simple flu to sickness of being possessed by evil spirits. The intriguing things about their diagnosis and prognosis about one’s ailment were that on almost all instances, these sickness were caused by bad spirits. The common Salako term used to describe these illnesses was “takana jukut” where “takana” means ”affected by/inflicted by/caused by“ and “jukut” may means “mediums/things/objects/subjects”, usually of the unseen or unknown. Imagine if now were then, when the H1N1 pandemic is causing havoc the world over, these “medical specialists” would have been very busy performing their rituals from village to village, having very little time to rest and be with their families.

Now though however, specifically since about a quarter of a century ago, almost all of these “medical specialists” have gone out of job. And these professions, usually handed down from heir to heir, have forced those “qualified” to switch to other job opportunities to make ends meet. Like their modern counterparts now, these “medical specialists” were referred to by many names, according to their “skills and capabilities”. Following are the titles or terms they were referred to.


Mr Kidi Ak Baloto, performing a Baiyatn demonstration show during his cousin's wedding night sometime ago.


Pa’ Tenteng – The Pa’ Tenteng or Tukang Tenteng were usually engaged to cure light illnesses such as simple flu, stomach ailments or headaches. Since the engagement were relatively simple, not much preparation were really needed. Neither were there too many minders or onlookers when the ritual is performed. Usually, only close relatives and friends were at hand to witness. The accompanying musical tunes during the ritual were that from the sound of chiming of china plates of different sizes to create the different pitch sound. Thus the “Batenteng”, derived from the “teng, teng, teng” sound of the china plates when struck using certain wooden stick. We can thus also, if we will, equate the Batenteng performed by the Pa’ Tenteng to the modern “general practitioner” where only ordinary medical appointments were made.


Another frame of Mr Kidi Ak Baloto doing the Baiyatn demo.


Pa’ Dukun – This title is conventionally believed to be one step ahead of the Pa’ Tenteng. Pa’ Dukun can also be refered to “Tukang Dukun” or simply Dukun. The occasion when a Pa’ Dukun is engaged to performed his “medical appointment” is called “Badukun”. Prior to performing a “Badukun”, the Pa’ Dukun must first be invited or approached to get his agreement or consent. This was usually done a couple of days before the occasion. The Salako called this “Ngaap” or “Ampus Ngaap”. It was not unusual for “Pa’ Dukuns” from a different village were engaged to perform the ritual though there might be available persons of the same caliber within the same village. The reasons though were unclear but it might be the “Familiarity breeds contempt” kind of phenomenon. In Malay, they called this “Bomoh Kampung Tidak Mujarab”. So much so! The Badukun involved quite an elaborate preparation which may take a whole day to complete. The Pa’ Dukun has an assistant, called the Panade’, akin to a co-pilot or a medical assistant of that sort. The duration of a Badukun is usually for one night, rarely two.


Mr Kidi Ak Baloto with yet his step.


Tukang Baiyatn – The “Tukang Baiyatn” can be referred to as a “Baiyatn” or “Dukun Baiyatn”. His status or capabilities is believed to be above that of the “Pa’ Dukun” as earlier described. Anything an ordinary “Pa’ Dukun” can’t handle might be best suited for a “Tukang Baiyatn”. Like the Badukun, the Baiyatn needed a much more elaborate preparation still. First, there must be a “Ngaap” (as described above), then followed by a very thorough and meticulous preparations, done only mostly by people “in the know”, usually the elders of the village. There need to be the “batakng taman”, a special platform made from a banana trunk where the Tukang Baiyatn would perform most of his prayers and mantra during the whole engagement. Like in the Badukun, a Tukang Baiyatn is assisted by a Panade’. Then there must be the “Anak Dalam”, three, five or seven of them, depending on the requirements as requested by the Tukang Baiyatn. The Anak Dalam are usually unmarried ladies, preferably in the teens. These Anak Dalam will on a certain section of the ritual assist the Tukang Baiyatn and the Panade’ to “Ngayuh Ajukng”, a symbolic act of “rowing a boat” when the Tukang Baiyatn would be “searching for the sickness of the patient and bringing back the cure”. An “Ajukng” is a “toy junk” or a small model sailing boat. Depending on the severity of the sickness of the patient, the Baiyatn is performed between one to three nights. Just as in the Badukun, the whole village folks were required (invited) to witness the ceremony from beginning to end. This act is called the “Ngarunukng”, meaning to attend, to be present or to witness. Gongs and “Tuma’” and other percussions are used as background music as in the Badukun. Tuma’ is a certain hand held drum made of wood and animal hide.


He could be a real Tukang Baiyatn if it were thirty or forty years ago.


Tukang Lenggang – Sometimes referred to as Pa’ Lenggang or simply Lenggang. Of all the four, the Lenggang is the most potent of the traditional healers. Any illnesses stubborn enough that could not be handled by a Pa’ Tenteng, Pa’ Dukun or Tukang Baiyatn are normally referred to a Lenggang. Since a Balenggang (a ceremony where a Lenggang performed his ritual) is the most “complex and sophisticated” of the four, there need to be a very serious deliberation amongst the concerned village folks prior to calling one. The expenditure could be relatively very huge as compared to others but normally, the burden of preparation would be shared by every family in the village by way of donations. These donations will be in the form of labour, rice, sugar, chickens and all there need to be to sustain the whole period of the ritual. The same applies to the Batenteng, Badukun and the Baiyatn. Call that Love and Mercy in motions!


Almost similar to a Baiyatn, a Balenggang need to have a Panade’, the Anak Dalam, the Batakng Taman, the Ajukng and much more. Depending on the severity of the sickness of the patient, there sometime is a need to slaughter a dog, preferably a black one, of which blood is believed to have the power to neutralize many forms of curses. The Balenggang is performed between one to three nights, all depending to the “diagnosis and prognosis” of the Pa’ Lenggang.

After performing any of the four rituals (ie the Batenteng, Badukun, Baiyatn and the Balenggang) the affected family need to have a Balala’ or Basansam between three to seven consecutive days, depending on the advice of the “medicine man”. A Balala’ or a Basansam is an actual fact a modern day quarantine, giving the treated patient enough rest and probably to “contain the spread of disease”.



Note 1
: The above entry is based on the experience of the writer during his younger days almost three decades ago. Some information may slightly differ according to places. However though, the writer made a serious effort to verify the facts by referring to elders whom he considers are able to give the correct information.

Note 2: The Salako community by tradition did not have the Baiyatn and the Balenggang as a way to cure sickness and diseases. This culture was “borrowed” and adapted from the Rara (Bakati’) community. In fact, all the Baiyatn and the Balenggang that the writer had witnessed first hand were all done by the Rara mediums themselves.

Note 3: By tradition and culture, the Salako and Rara communities were never at loggerheads with each other, thus both communities can easily assimilate with each other, while keeping their dialect/language distinctively their own.

Note 4: All factual corrections and comments are most welcomed so that this entry could be revised and updated.

Picture

GADIS DAYAK

Jumat, 24 Mei 2013

UNIVERSITAS TANJUNG PURA-INFO


Untan Akan Perkuat Kerja Sama dengan Prancis

REPUBLIKA.CO.ID, PONTIANAK - Universitas Tanjungpura Pontianak akan memperkuat kerja sama dengan pemerintah Prancis di bidang ilmu pendidikan diantaranya beasiswa untuk jenjang S-2 di negara tersebut. "Baru-baru ini saya dan sesama alumnus Cole Nationale Superieur de Chimie de Tolouse Institute Nationale de Polytekniqe (UNSCT INP) de Tolouse, Prancis, angkatan tahun 1997, dan Duta Besar Prancis melakukan dan menyepakati kerja sama tersebut," kata Dekan Fakultas Matematika IPA Untan, Prof Dr Thamrin Usman DEA di Pontianak, Kamis (31/3).

Thamrin Usman dalam pemilihan Rektor Untan awal Februari lalu meraih suara terbanyak, menyisihkan incumbent Prof Dr Chairil Effendy. Ia dijadwalkan akan dilantik sebagai Rektor Untan pada pertengahan April. Thamrin mengatakan, selain pertemuan dengan alumnus dan Duta Besar Prancis, dalam watu dekat dirinya akan melakukan lobi terkait beasiswa pendidikan S-2 di negara tersebut. "Saya berharap ke depannya banyak dosen-dosen dan lulusan Untan mendapat program beasiswa ke Prancis," katanya.

Sementara itu, Chairil Effendy menyatakan, tahun 2011 pemerintah telah menganggarkan sekitar Rp 1 triliun untuk program beasiswa ke luar negeri yang bisa digunakan oleh lima ribu orang. "Semua berkesempatan untuk berkompetisi mendapatkan program beasiswa tersebut asal memenuhi persyaratan," katanya.

Menurut dia, saat ini sudah 30 dosen di lingkungan Untan Pontianak yang mendaftar untuk mendapatkan program beasiswa tersebut. "Kami juga akan mendaftarkan para wisudawan tahun ajaran 2010-2011 yang baru saja dilepas, yang mempunyai nilai prestasi tinggi," kata Chairil.

Untan Pontianak tahun ajaran 2010-2011 mewisuda 1.211 orang, diantaranya D3 Pertanian dan Ilmu Sosial dan Politik (ISIP) 15 orang, program sarjana, Fakultas Hukum sebanyak 169 orang, Ekonomi 148 orang, Pertanian 64 orang, Teknik 42 orang, ISIP 70 orang, Keguruan dan Ilmu Pendidikan 492 orang, Kehutanan 30 orang, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam 33 orang dan Kedokteran dan Ilmu Kesehatan sebanyak 40 orang.

JUSTIN BIEBER-NEW STYLE


 

Rabu, 22 Mei 2013

Kalimantan Barat

So Beautiful :)

10 Gereja Tertua Di Dunia

http://qillknows.wordpress.com/
1. Dura-Europos church
Gereja Dura-Europos merupakan Gereja Kristen yang paling awal diindentifikasi. Gereja ini terletak di Dura-Europos di Suriah dan sudah ada sejak tahun 235. Pada tahun 1921, sebuah tim akeologi yang bekerja di tepi Sungai Efrat menemukan sisa-sisa gereja Kristen yang ada pertama kali. Gedung gereja itu terletak di suatu tempat yang oleh pasukan Romawi Kuno disebut Dura-Europos. Reruntuhan gereja itu ditinggalkan oleh Romawi pada tahun 257.

2. Megiddo church
Megido gereja yang terletak di kota Tel Megido, Israel, dan merupakan salah satu gereja kuno adalah yang tertua yang pernah ditemukan oleh arkeolog. Diketahui, sampai tahun 2005, arkeolog nama Israel Yotam Tepper dari Tel-Aviv University telah menemukan reruntuhan gereja ini, dan mereka juga memiliki bukti bahwa gereja ini dibangun abad3, periode orang Kristen yang setia masih dianiaya oleh Kekaisaran Romawi.
Sisa reruntuhan ditemukan juga di penjara Magiddo yang terletak beberapa ratus meter di selatan Tel. Diantara temuan tersebut terdapat mosaik bertulisan bahwa “Gereja dipersembahkan kepada TUHAN YESUS” dalam tulisan Yunani. Mosaik tersebut juga dilengkapi dengan gambar ikan yang merupakan simbol awal dari Kekristenan.

3. Monastery of Saint Anthony
Monastery of Saint Anthony terletak di oasis dibagian timur gurun di Mesir. Biara ini merupakan salah satu yang tertua yang didirikan oleh para pengikut Santo Anthony yang dianggap sebagai seorang pertapa biarawan pertama. Biara ini juga merupakan biara yang terkemuka di Mesir dan pengaruhnya sangat luas bagi beberapa organisasi Koptik.

4. Saint Pierre aux Nonnains basilica
Saint-Pierre-aux-Nonnains basilika adalah bangunan gereja bersejarah di Metz, Perancis yang dibangun tahun 380 Masehi dan merupakan salah satu gereja tertua di Eropa. Bangunan ini awalnya dibangun untuk menjadi bagian dari kompleks spa Romawi, tetapi struktur yang ada dikonversikan menjadi digunakan sebagai sebuah gereja di abad ke-7 dan menjadi Kapel. Bagian tengah dari bangunan ini telah direnovasi pada sekitar tahun 1000. Mulai dari tahun 1970, bangunan ini telah diperbaiki lagi dan dibuka untuk konser dan pameran.

5. Church of Our Lady Mary of Zion
Church of Our Lady Mary of Zion adalah geraja yang paling penting di negara Ethiopia. Gereja ini dipercaya dibangun pada masa pemerintahan Ezana, kaisar Kristen pertama di Ethiopia, dan sejak abad ke-4 Masehi, telah berkali-kali direkonstruksi. Gereja ini terletak di kota Axum di propinsi Tigray. Gereja ini sempat dua kali dihancurkan, yaitu pada masa Ratu Gudit (abad 10) dan oleh Ahmad ibn Ibrahim al-Ghazi (sekitar abad 16). Kemudian pada masa kaisar Gelawdewos, Gereja ini dibangun kembali dan diperluas oleh Fasilides pada abad ke 17.

6. Cathedral of Trier
Cathedral of Trier merupakan sebuah gereja di Trier, Rheinland-Palatinate, Jerman. Ini adalah katedral tertua di negara ini. Bangunan ini terkenal karena sejarah yang panjang dan telah melalui sberbagai zaman yang berbeda sehingga mempengaruhi desainnya. Struktur gereja yang besar membuatnya merupakan Gereja terbesar di Trier dan Sejak tahun 1986 telah masuk dalam daftar UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia.

7. Church of Saint Simeon Stylites
Church of Saint Simeon Stylites adalah gereja yang telah ada sejak abad ke-5. Terletak sekitar 30 km barat laut dari Aleppo, Suriah, Gereja ini dibangun di lokasi pilar St Simeon Stylites , seorang biarawan terkenal. Gereja ini dikenal juga sebagai “Qalat Seman Benteng Simeon’.

8. Hagia Sophia
Hagia Sophia pada dasarnya merupakan Gereja Ortodoks. Kemudian menjadi masjid, dan sekarang menjadi museum di Istanbul, Turki. Dari berdirinya gereja ini sampai 1453, Gereja ini digunakan sebagai katedral Konstantinopel, kecuali diantara antara 1204 samapi 1261, ketika diubah menjadi katedral Katolik Roma. Bangunan itu mennjadi masjid pada tanggal 29 Mei 1453 sampai tahun 1934. Saat ini Hagia Sophia dibuka sebagai museum muali tanggal 1 Februari 1935.

9. Saint Catherine’s Monastery, Mount Sinai
Saint Catherine’s Monastery terletak di Semenanjung Sinai, di ngarai di kaki Gunung Sinai kota Saint Katherine, Mesir. Ini adalah biara Ortodoks dan merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO. Menurut laporan UNESCO, biara ini adalah salah satu biara Kristen tertua di dunia bersama-sama dengan Monastery of Saint Anthony.

10. Church of the Nativity
Ini merupakan Gereja yang mungkin paling berkesan bagi umat Kristiani. Struktur Gereja ini dibangun di atas gua sebagai tradisi mengenai tempat kelahiran TUHAN YESUS dari Nazaret, dan dengan demikian dianggap sakral oleh orang Kristen. Situs ini juga dihormati oleh para pemeluk agama Islam.

http://qillknows.wordpress.com/
courtesy : wikipedia.org

Minggu, 19 Mei 2013

Bumi Sebalo Kalimantan Barat

Fajar Baru di Bumi Sebalo

Selasa, 10 Agustus 2010, sejarah baru sedang ditulis di Kabupaten Bengkayang. Hari itu adalah pelantikan Suryadman Gidot-Agustinus Naon sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bengkayang periode 2010-2015. Inilah bupati produk asli Kabupaten Bengkayang dan produk reformasi sehingga diharapkan bisa benar-benar membangun untuk kemajuan daerahnya.


Tepat pukul 09.30 WIB Selasa (10/8) pelantikan dimulai dalam sidang paripurna istimewa DPRD Bengkayang yang dipimpin oleh ketuanya Sebastianus Darwis. Pelantikan dihadiri sejumlah pejabat dari Pusat, provinsi, Bengkayang, perwakilan pemerintah kabupaten di Kalbar serta 60-an orang dari negeri jiran Serikin dan Kuching (Sarawak). Tak kurang sekitar seribu orang hadir di dalam dan luar gedung DPRD Bengkayang. Dari Pusat tampak anggota DPR dari Partai Demokrat Yahya Sakawia, pengurus Partai Demokrat dan Hanura (partai pengusung) dari Provinsi Kalbar dan Bengkayang, manta wagub LH Kadir, bupati Sekadau Simon Petrus, Wabup Kapuas Hulu Agus Mulyana, Wabub Sanggau Paolus Hadi, Wakil Wako Singkawang Edy R. Yakob, sejumlah kepala dinas provinsi, anggota KPU Bengkayang, 29 dari anggota DPRD Bengkayang juga hadir, tokoh masyarakat Bengkayang, para pengusaha dan warga nasyarakat umumnya.

Di jalan masuk dan depan gedung DPRD tampak berjejer ratusan baliho dan karangan bunga ucapan selamat dari lembaga maupun pribadi hampir sepanjang dua ratus meter. Di tepi jalan depan mess Pemkab Bengkayang juga berjejer baliho ucapan selamat.

Mengawali sambutannya Gubernur Cornelis menjelaskan makna pepatah Dayak "adil ka'talino, bacuramin ka' saruga, basengat ka' jubata", serta mengutip sejumlah ayat Injil. "Jabatan bupati dan wakil bupati ini adalah amanah. Jalankan sesuai iman dan kepercayaan serta menjunjung tinggi UUD 1945 dan Pancasila. Cinta kasih sesuai ajaran Yesus Kristus dalam Injil serta nilai-nilai luhur budaya Dayak harus dikedepankan dan harus bekerja keras. Soal hasil, terserah Tuhan,"bebernya.

Cornelis sempat berang karena ketika baru sekitar dua menit pidato, ada bunyi telpon genggam dari hadirin yang membuyarkan konsentrasinya.

Dalam sambutan yang terkadang tanpa teks itu, Gubernur Cornelis membeberkan sembilan perintah presiden RI kepada para kepala daerah. Cornelis mengingatkan Bupati dan Wakil Bupati baru agar menjaga hubungan baik antara Pusat dan Daerah. Ia menegaskan bahwa meskipun otonomi daerah, antara bupati/walikota tetap mempunyai hubungan dengan gubernur dan presiden. "Bukan berarti otonomi lalu sebebas-bebasnya. Hirarki pemerintahan itu sudah jelas dari atas ke bawah. Negara kita tidak memakai istilah state (Negara bagian-red),"jelasnya dengan nada tinggi.
Add caption

Ia menambahkan, "jangan sedikit-sedikit ke Jakarta, tapi utamakan hal-hal yang penting di daerahnya ditinggalkan. Mentang-mentang otonomi daerah, jangan semaunya. Kadang-kadang antara bupati dan wakilnya jalan sendiri-sendiri. Saya undang bupati dan walikota, tapi yang dikirim wakilnya. Padahal saya ingin menyampaikan hasil rapat dengan presiden," ujarnya sambil menanya hadirin bupati mana yang hadir dalam pelantikan bupati Bengkayang tersebut.


Gubernur dari PDIP ini juga menyampaikan bahwa jajaran pemerintah provinsi siap memberikan masukan, menjadi mitra konsultasi dan kordinasi pemerintah kabupaten/kota. "Kordinasi itu tidak haram, tidak jauth martabat kita kalau berkordinasi. Jangan sungkan dan ragu serta tidak diminta bayaran. Kalau ada yang minta bayaran, lapor saya, nanti hari itu juga langsung saya pecat,"tegasnya.

Cornelis mengingatkan agar kepala daerah jangan korupsi. "Hati-hati, sekarang ini banyak yang mengawasi kita. Ada anggota legislatif, polisi, jaksa, hakim, tentara, LSM dan UKP4. Hati-hati, kalau tidak, mampus kita,"katanya disambut gelak tawa hadirin.

Menurutnya belum tentu yang korupsi itu pejabat. Bisa saja karena kurang kontrol terhadap bawahannya, dibohongi anak buah. "Kita ini politisi. Kadang birokrasi itu hebat. Mereka pintar dan terdidik puluhan tahun. Kita paling hany abicara kebijakan. Kalau proyek harus dilihat aturannya, jangan asal teken saja, nanti ke parit kita,"ungkapnya.

Sebagai wakil pemerintah pusat di daerah Cornelis menyampaikan secara garis besar hasil rapat kerja para menteri dan para gubernur se-Indonesia di Bogor 5-6 Agustus 2010. Salah satunya adalah pesan presiden agar menyeimbangkan antara ekonomi makro dan mikro. "Pusat berusaha semaksimal mungkin memacu pertumbuhan ekonomi makro dan daerah harus memacu pertumbuhan ekonomi mikronya. Kalau pertumbuhan ekonomi nasional bagus tapi daerah tidur, jadi apa Negara ini. APBD bisa saja deficit, tapi tidak boleh lebih dari 3 persen, harus ditekan maksimal 1,7 persen. Saya sebagai kepala daerah wajib mengontrolnya. Iklim investasi di daerah juga harus dijaga supaya bisa membuka lapangan kerja," jelas Cornelis.

Menurut Cornelis, dana yang diberikan oleh pemerintah Pusat dan daerah sudah cukup. Maka jangan lagi ada anak-anak buta huruf, pelayanan kesehatan yang buruk sehingga angka kematian bayi dan anak tinggi. Semua sudah diberikan kewenangan kepada kelapa daerah mengurusnya. Nanti kalau ada apa-apa, jangan presiden yang disalahkan. "Saat rapat dengan presiden di Bogor diketahui ternyata pelayanan umum masih sangat rendah. APBD lebih banyak belanja pegawai,"paparnya.

Cornelis memperingatkan orang-orang partai politik agar jangan merongrong bupati dan wakil bupati. "Yang kalah harus menerima. PDIP kalah, ya harus terima. Jangan macam-macam lagi. Kalau mengkritisi di parlemen, mesti berbeda partai, harus rukun, Kalah harus diterima, namanya juga pertarungan ada kalah-menang. Ucapkan selamat untuk yang menang. Ini adalah suatu pembelajaran politik,"ujar ketua DPD PDIP Kalbar ini disambut tawa hadirin.

Ia mencontohkan, meski ia ketua DPD PDIP Kalbar dan calon bupati Bengkayang yang diusung PDIP kalah (Moses-Darwis), dan yanag menang adalah dari Demokrat, tapi ketika ditugaskan Presiden untuk melantik, maka ia lakukan agar tidak terjadi stagnasi pemerintahan; tidak membedakan.

Selesai pelantikan bupati dan wakil bupati, dilakukan pelantikan ketua PKK yang baru kepada Ny. Femi Oktaviani. Cornelis berpesan agar ibu-ibu PKK proakif dalam kegiatan untuk mengingatkan para orang tua khususnya tentang pentingnya pendidikan, kesehatan dan gizi keluarga.

Fajar baru

Bengkayang memulai sejarah baru di bawah Bupati termuda di Kalbar, yakni 39 tahun (15 Mei 1971). Dari perbincangan KR dengannya, terlihat ada semangat, energi dan jiwa muda yang menggebu-gebu untuk membangun kabupaten Bengkayang. Di sela-sela kesibukan mempersiapkan acara pelantikan, selain hal-hal ringan, KR sempat berbincang tentang bagaimana metode, pola terbaik agar masyarakat setempat (penduduk lokal-red) bisa sejahtera dengan masuknya industri perkebunan besar. Nasib masyarakat adat di tengah derasnya industri perkebunan sawit di sana merupakan satu persoalan yang sangat serius.

Bupati Gidot adalah sosok pemimpin daerah (bupati) yang lahir hasil produk reformasi di Indonesia. Bupati yang lahir, besar dan mencurahkan tenaga dan pikrirannya untuk daerahnya. Lumayan giat di aktivitas kemahasiswaan kampus maupun luar kampus pada akhir-akhir tumbangnya rejim Soeharto. Setamat kuliah, berbekal ijazah guru, Gidot mengajar di sekolah swasta di Bengkayang. Ketika orde Reformasi lahir dan bermunculan partai politik baru, Gidot pun aktif ke politik dan mengantarkannya menjadi anggota DPRD Bengkayang. Ketika terpilih pada periode kedua dan menjadi wakil ketua DPRD, ia pun berpasangan dengan Jacobus Luna dan terpilih sebagai wakil bupati. Sambil menjadi wakil bupati, ia bisa merebut posisi ketua Partai Demokrat Bengkayang. Kedudukan inilah yang memuluskan langkahnya menjadi calon bupati Bengkayang yang berpenduduk 211.883 jiwa yang tersebar di 17 kecamatan dan 120 desa ini.

Dengan latar belakang seperti itu, banyak pihak berharap agar Pak Gidot membawa perbaikan bagi rakyatnya yang tidak lain adalah saudaranya semua. Saudaranya, khususnya masyarakat adat yang merupakan warga terbanyak Kabupaten Bengkayang; sekaligus pendukung terbesarnya di 12 kecamatan sehingga bisa meraih kursi bupati. Tentu ia tidak rela melihat saudaranya sendiri hidup dalam kemiskinan dan keterasingan di tengah gencarnya kemajuan dan pembangunan di di kabupaten terkecil dibanding 12 kabupaten lain di Kalbar (3,68 persen dari keseluruhan luas Kalbar).

Tanggung jawab yang tidak mudah tentu saja. Masih banyak pekerjaan rumah yang mesti dibereskan Bupati Gidot yang secara umum bisa dilihat dari rendahnya Indeks pembangunan manusia (IPM). IPM yang merupakan indikator penting untuk melihat kemajuan pembangunan suatu wilayah harus terus ditingkatkan. Tahun 2006 IPM Bengkayang 65,7; indeks yang tergolong memprihatinkan. Yang paling rendah adalah komponen pendidikan (dilihat dari angka melek huruf maupun rata-rata lama sekolah). Masyarakat tentu menuntut janji kampanye Gidot-Naon yang akan memberikan pendidikan gratis dari SD hingga SLTA.

Tentu ia tidak berhasil jika sendirian. Segenap komponen masyarakat Bengkayang harus bersatu mewujudkan visinya "terwujudnya masyarakat Kabupaten Bengkayang yang sejahtera, cerdas, sehat, beriman, demokratis dan mandiri dalam keberagaman".

Ada 12 misi Bupati Gidot, antara lain meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat dengan pendekatan pemberdayaan ekonomi kerakyatan dengan kearifan lokal dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas pelayanan. Kedua, peningkatan profesionalisme aparatur pemerintahan. Ketiga, membuka, meningkatkan dan memelihara sarana penunjang transportasi dan informasi. Keempat, pengembangan daerah perbatasan. Kelima, percepatan pembangunan desa dengan metode pembangunan desa mandiri. Keenam, menjadikan kabupaten Bengkayang disegani karena kemandirian masyarakat dalama berbagai sektor kehidupan.

Prioritas lima tahun ini menurut Gidot adalah pemberdayaan masyarakat melalui pembukaan peluang usaha kepada rakyat. Tentu harus dilakukan bersamaan dengan sarana transportasi yang baik untuk pemasaran produk. Karena itulah perbaikan dan pembangunan jalan darat juga menjadi prioritas. Karena masyarakat disini banyak petani, maka akan disediakan bibit gratis untuk sejumlah komoditas perkebunan, seperti karet, kakao dan lainnya. Pendidikan dan kesehatan juga menjadi prioritas. Sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan akan terus ditingkatkan agar kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat semakin baik.

Perbatasan juga akan mendapat perhatian serius. Meski wewenang Pusat, Pemkab akan menjadikan kawasan perbatasan sebagai sentra-sentra pertanian, peternakan dan produk unggulan lainnya. Pemkab akan memfasilitasi dan menyediakan sarana-prasarana pendukung. Hasilnya bisa dijual ke dalam maupun tetangga.

Gidot dalam wawancara dengan KR (lihat KR Juli 2010) juga berjanji akan memberikan perhatian khusus untuk masyarakat adat. "Saya sangat menyadari bahwa mayoritas pemilih saya adalah masyarakat, khususnya masyarakat adat dari pedalaman/pedesaan. Saya menang di 12 dari 17 kecamatan. Nah 12 kecamatan itu semuanya di daerah pedesaan/pedalaman. Tentu akan ada program-program khusus yang akan Pemkab siapkan untuk memberdayakan perekonomian masyarakat pedesaan; untuk memperkuat adat istiadat dan budaya mereka. Intinya agar masyarakat adat tidak ketinggalan dalam segala hal dengan anggota masyarakat lainnya,"urainya.

Mantan Bupati Bengkayang Jacobus Luna berharap agar Gidot-Naon meneruskan sejumlah program pada masa kepemimpinannya. Yakni pengentasan kemiskinan, menciptakan lapangan kerja, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan rakyat. "Saya siap mendukung Pak Gidot dan Pak Naon dan siap memberikan kontribusi jika diperlukan,"ujarnya kepada KR di Mess Daerah Pemkab Bengkayang sambil menunggu kedatangan Gubernur Cornelis pukul 22.00 WIB.

Bagi Luna, Bupati Suryadman Gidot dan Agustinus Naon bukanlah orang baru. Gidot adalah mantan wakilnya dan Naon adalah salah seorang staffnya di Pemkab. "Saya berharap bupati dan wakil bupati baru ini akan membawa perubahan bagi kabupaten Bengkayang. Saya siap membantu mempromosikan potensi Bengkayang agar dikenal orang luar,"ujar mantan Sekda Kabupaten Pontianak dan Bupati Bengkayang dua periode ini.

Ketua Dewan Adat Dayak Kabupaten Bengkayang A. Acam mengharapkan agar Gidot lebih memperhatikan nasib masyarakat di pedalaman dan perbatasan. "Semoga pemerintah memberikan mereka akses dan dukungan sehingga masyarakat pedalaman bisa lebih berkembang, bisa hidup lebih baik. Saya yakin Gidot yang merupakan putra asli Bengkayang dan masih muda, energik, bisa membawa perubahan bagi masyarakat,"harap Acam dalam perbincangan dengan KR di rumah pribadi Bupati Gidot.

Bumi Sebalo Kalimantan Barat

Fajar Baru di Bumi Sebalo

Selasa, 10 Agustus 2010, sejarah baru sedang ditulis di Kabupaten Bengkayang. Hari itu adalah pelantikan Suryadman Gidot-Agustinus Naon sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bengkayang periode 2010-2015. Inilah bupati produk asli Kabupaten Bengkayang dan produk reformasi sehingga diharapkan bisa benar-benar membangun untuk kemajuan daerahnya.


Tepat pukul 09.30 WIB Selasa (10/8) pelantikan dimulai dalam sidang paripurna istimewa DPRD Bengkayang yang dipimpin oleh ketuanya Sebastianus Darwis. Pelantikan dihadiri sejumlah pejabat dari Pusat, provinsi, Bengkayang, perwakilan pemerintah kabupaten di Kalbar serta 60-an orang dari negeri jiran Serikin dan Kuching (Sarawak). Tak kurang sekitar seribu orang hadir di dalam dan luar gedung DPRD Bengkayang. Dari Pusat tampak anggota DPR dari Partai Demokrat Yahya Sakawia, pengurus Partai Demokrat dan Hanura (partai pengusung) dari Provinsi Kalbar dan Bengkayang, manta wagub LH Kadir, bupati Sekadau Simon Petrus, Wabup Kapuas Hulu Agus Mulyana, Wabub Sanggau Paolus Hadi, Wakil Wako Singkawang Edy R. Yakob, sejumlah kepala dinas provinsi, anggota KPU Bengkayang, 29 dari anggota DPRD Bengkayang juga hadir, tokoh masyarakat Bengkayang, para pengusaha dan warga nasyarakat umumnya.

Di jalan masuk dan depan gedung DPRD tampak berjejer ratusan baliho dan karangan bunga ucapan selamat dari lembaga maupun pribadi hampir sepanjang dua ratus meter. Di tepi jalan depan mess Pemkab Bengkayang juga berjejer baliho ucapan selamat.

Mengawali sambutannya Gubernur Cornelis menjelaskan makna pepatah Dayak "adil ka'talino, bacuramin ka' saruga, basengat ka' jubata", serta mengutip sejumlah ayat Injil. "Jabatan bupati dan wakil bupati ini adalah amanah. Jalankan sesuai iman dan kepercayaan serta menjunjung tinggi UUD 1945 dan Pancasila. Cinta kasih sesuai ajaran Yesus Kristus dalam Injil serta nilai-nilai luhur budaya Dayak harus dikedepankan dan harus bekerja keras. Soal hasil, terserah Tuhan,"bebernya.

Cornelis sempat berang karena ketika baru sekitar dua menit pidato, ada bunyi telpon genggam dari hadirin yang membuyarkan konsentrasinya.

Dalam sambutan yang terkadang tanpa teks itu, Gubernur Cornelis membeberkan sembilan perintah presiden RI kepada para kepala daerah. Cornelis mengingatkan Bupati dan Wakil Bupati baru agar menjaga hubungan baik antara Pusat dan Daerah. Ia menegaskan bahwa meskipun otonomi daerah, antara bupati/walikota tetap mempunyai hubungan dengan gubernur dan presiden. "Bukan berarti otonomi lalu sebebas-bebasnya. Hirarki pemerintahan itu sudah jelas dari atas ke bawah. Negara kita tidak memakai istilah state (Negara bagian-red),"jelasnya dengan nada tinggi.
Add caption

Ia menambahkan, "jangan sedikit-sedikit ke Jakarta, tapi utamakan hal-hal yang penting di daerahnya ditinggalkan. Mentang-mentang otonomi daerah, jangan semaunya. Kadang-kadang antara bupati dan wakilnya jalan sendiri-sendiri. Saya undang bupati dan walikota, tapi yang dikirim wakilnya. Padahal saya ingin menyampaikan hasil rapat dengan presiden," ujarnya sambil menanya hadirin bupati mana yang hadir dalam pelantikan bupati Bengkayang tersebut.


Gubernur dari PDIP ini juga menyampaikan bahwa jajaran pemerintah provinsi siap memberikan masukan, menjadi mitra konsultasi dan kordinasi pemerintah kabupaten/kota. "Kordinasi itu tidak haram, tidak jauth martabat kita kalau berkordinasi. Jangan sungkan dan ragu serta tidak diminta bayaran. Kalau ada yang minta bayaran, lapor saya, nanti hari itu juga langsung saya pecat,"tegasnya.

Cornelis mengingatkan agar kepala daerah jangan korupsi. "Hati-hati, sekarang ini banyak yang mengawasi kita. Ada anggota legislatif, polisi, jaksa, hakim, tentara, LSM dan UKP4. Hati-hati, kalau tidak, mampus kita,"katanya disambut gelak tawa hadirin.

Menurutnya belum tentu yang korupsi itu pejabat. Bisa saja karena kurang kontrol terhadap bawahannya, dibohongi anak buah. "Kita ini politisi. Kadang birokrasi itu hebat. Mereka pintar dan terdidik puluhan tahun. Kita paling hany abicara kebijakan. Kalau proyek harus dilihat aturannya, jangan asal teken saja, nanti ke parit kita,"ungkapnya.

Sebagai wakil pemerintah pusat di daerah Cornelis menyampaikan secara garis besar hasil rapat kerja para menteri dan para gubernur se-Indonesia di Bogor 5-6 Agustus 2010. Salah satunya adalah pesan presiden agar menyeimbangkan antara ekonomi makro dan mikro. "Pusat berusaha semaksimal mungkin memacu pertumbuhan ekonomi makro dan daerah harus memacu pertumbuhan ekonomi mikronya. Kalau pertumbuhan ekonomi nasional bagus tapi daerah tidur, jadi apa Negara ini. APBD bisa saja deficit, tapi tidak boleh lebih dari 3 persen, harus ditekan maksimal 1,7 persen. Saya sebagai kepala daerah wajib mengontrolnya. Iklim investasi di daerah juga harus dijaga supaya bisa membuka lapangan kerja," jelas Cornelis.

Menurut Cornelis, dana yang diberikan oleh pemerintah Pusat dan daerah sudah cukup. Maka jangan lagi ada anak-anak buta huruf, pelayanan kesehatan yang buruk sehingga angka kematian bayi dan anak tinggi. Semua sudah diberikan kewenangan kepada kelapa daerah mengurusnya. Nanti kalau ada apa-apa, jangan presiden yang disalahkan. "Saat rapat dengan presiden di Bogor diketahui ternyata pelayanan umum masih sangat rendah. APBD lebih banyak belanja pegawai,"paparnya.

Cornelis memperingatkan orang-orang partai politik agar jangan merongrong bupati dan wakil bupati. "Yang kalah harus menerima. PDIP kalah, ya harus terima. Jangan macam-macam lagi. Kalau mengkritisi di parlemen, mesti berbeda partai, harus rukun, Kalah harus diterima, namanya juga pertarungan ada kalah-menang. Ucapkan selamat untuk yang menang. Ini adalah suatu pembelajaran politik,"ujar ketua DPD PDIP Kalbar ini disambut tawa hadirin.

Ia mencontohkan, meski ia ketua DPD PDIP Kalbar dan calon bupati Bengkayang yang diusung PDIP kalah (Moses-Darwis), dan yanag menang adalah dari Demokrat, tapi ketika ditugaskan Presiden untuk melantik, maka ia lakukan agar tidak terjadi stagnasi pemerintahan; tidak membedakan.

Selesai pelantikan bupati dan wakil bupati, dilakukan pelantikan ketua PKK yang baru kepada Ny. Femi Oktaviani. Cornelis berpesan agar ibu-ibu PKK proakif dalam kegiatan untuk mengingatkan para orang tua khususnya tentang pentingnya pendidikan, kesehatan dan gizi keluarga.

Fajar baru

Bengkayang memulai sejarah baru di bawah Bupati termuda di Kalbar, yakni 39 tahun (15 Mei 1971). Dari perbincangan KR dengannya, terlihat ada semangat, energi dan jiwa muda yang menggebu-gebu untuk membangun kabupaten Bengkayang. Di sela-sela kesibukan mempersiapkan acara pelantikan, selain hal-hal ringan, KR sempat berbincang tentang bagaimana metode, pola terbaik agar masyarakat setempat (penduduk lokal-red) bisa sejahtera dengan masuknya industri perkebunan besar. Nasib masyarakat adat di tengah derasnya industri perkebunan sawit di sana merupakan satu persoalan yang sangat serius.

Bupati Gidot adalah sosok pemimpin daerah (bupati) yang lahir hasil produk reformasi di Indonesia. Bupati yang lahir, besar dan mencurahkan tenaga dan pikrirannya untuk daerahnya. Lumayan giat di aktivitas kemahasiswaan kampus maupun luar kampus pada akhir-akhir tumbangnya rejim Soeharto. Setamat kuliah, berbekal ijazah guru, Gidot mengajar di sekolah swasta di Bengkayang. Ketika orde Reformasi lahir dan bermunculan partai politik baru, Gidot pun aktif ke politik dan mengantarkannya menjadi anggota DPRD Bengkayang. Ketika terpilih pada periode kedua dan menjadi wakil ketua DPRD, ia pun berpasangan dengan Jacobus Luna dan terpilih sebagai wakil bupati. Sambil menjadi wakil bupati, ia bisa merebut posisi ketua Partai Demokrat Bengkayang. Kedudukan inilah yang memuluskan langkahnya menjadi calon bupati Bengkayang yang berpenduduk 211.883 jiwa yang tersebar di 17 kecamatan dan 120 desa ini.

Dengan latar belakang seperti itu, banyak pihak berharap agar Pak Gidot membawa perbaikan bagi rakyatnya yang tidak lain adalah saudaranya semua. Saudaranya, khususnya masyarakat adat yang merupakan warga terbanyak Kabupaten Bengkayang; sekaligus pendukung terbesarnya di 12 kecamatan sehingga bisa meraih kursi bupati. Tentu ia tidak rela melihat saudaranya sendiri hidup dalam kemiskinan dan keterasingan di tengah gencarnya kemajuan dan pembangunan di di kabupaten terkecil dibanding 12 kabupaten lain di Kalbar (3,68 persen dari keseluruhan luas Kalbar).

Tanggung jawab yang tidak mudah tentu saja. Masih banyak pekerjaan rumah yang mesti dibereskan Bupati Gidot yang secara umum bisa dilihat dari rendahnya Indeks pembangunan manusia (IPM). IPM yang merupakan indikator penting untuk melihat kemajuan pembangunan suatu wilayah harus terus ditingkatkan. Tahun 2006 IPM Bengkayang 65,7; indeks yang tergolong memprihatinkan. Yang paling rendah adalah komponen pendidikan (dilihat dari angka melek huruf maupun rata-rata lama sekolah). Masyarakat tentu menuntut janji kampanye Gidot-Naon yang akan memberikan pendidikan gratis dari SD hingga SLTA.

Tentu ia tidak berhasil jika sendirian. Segenap komponen masyarakat Bengkayang harus bersatu mewujudkan visinya "terwujudnya masyarakat Kabupaten Bengkayang yang sejahtera, cerdas, sehat, beriman, demokratis dan mandiri dalam keberagaman".

Ada 12 misi Bupati Gidot, antara lain meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat dengan pendekatan pemberdayaan ekonomi kerakyatan dengan kearifan lokal dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas pelayanan. Kedua, peningkatan profesionalisme aparatur pemerintahan. Ketiga, membuka, meningkatkan dan memelihara sarana penunjang transportasi dan informasi. Keempat, pengembangan daerah perbatasan. Kelima, percepatan pembangunan desa dengan metode pembangunan desa mandiri. Keenam, menjadikan kabupaten Bengkayang disegani karena kemandirian masyarakat dalama berbagai sektor kehidupan.

Prioritas lima tahun ini menurut Gidot adalah pemberdayaan masyarakat melalui pembukaan peluang usaha kepada rakyat. Tentu harus dilakukan bersamaan dengan sarana transportasi yang baik untuk pemasaran produk. Karena itulah perbaikan dan pembangunan jalan darat juga menjadi prioritas. Karena masyarakat disini banyak petani, maka akan disediakan bibit gratis untuk sejumlah komoditas perkebunan, seperti karet, kakao dan lainnya. Pendidikan dan kesehatan juga menjadi prioritas. Sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan akan terus ditingkatkan agar kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat semakin baik.

Perbatasan juga akan mendapat perhatian serius. Meski wewenang Pusat, Pemkab akan menjadikan kawasan perbatasan sebagai sentra-sentra pertanian, peternakan dan produk unggulan lainnya. Pemkab akan memfasilitasi dan menyediakan sarana-prasarana pendukung. Hasilnya bisa dijual ke dalam maupun tetangga.

Gidot dalam wawancara dengan KR (lihat KR Juli 2010) juga berjanji akan memberikan perhatian khusus untuk masyarakat adat. "Saya sangat menyadari bahwa mayoritas pemilih saya adalah masyarakat, khususnya masyarakat adat dari pedalaman/pedesaan. Saya menang di 12 dari 17 kecamatan. Nah 12 kecamatan itu semuanya di daerah pedesaan/pedalaman. Tentu akan ada program-program khusus yang akan Pemkab siapkan untuk memberdayakan perekonomian masyarakat pedesaan; untuk memperkuat adat istiadat dan budaya mereka. Intinya agar masyarakat adat tidak ketinggalan dalam segala hal dengan anggota masyarakat lainnya,"urainya.

Mantan Bupati Bengkayang Jacobus Luna berharap agar Gidot-Naon meneruskan sejumlah program pada masa kepemimpinannya. Yakni pengentasan kemiskinan, menciptakan lapangan kerja, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan rakyat. "Saya siap mendukung Pak Gidot dan Pak Naon dan siap memberikan kontribusi jika diperlukan,"ujarnya kepada KR di Mess Daerah Pemkab Bengkayang sambil menunggu kedatangan Gubernur Cornelis pukul 22.00 WIB.

Bagi Luna, Bupati Suryadman Gidot dan Agustinus Naon bukanlah orang baru. Gidot adalah mantan wakilnya dan Naon adalah salah seorang staffnya di Pemkab. "Saya berharap bupati dan wakil bupati baru ini akan membawa perubahan bagi kabupaten Bengkayang. Saya siap membantu mempromosikan potensi Bengkayang agar dikenal orang luar,"ujar mantan Sekda Kabupaten Pontianak dan Bupati Bengkayang dua periode ini.

Ketua Dewan Adat Dayak Kabupaten Bengkayang A. Acam mengharapkan agar Gidot lebih memperhatikan nasib masyarakat di pedalaman dan perbatasan. "Semoga pemerintah memberikan mereka akses dan dukungan sehingga masyarakat pedalaman bisa lebih berkembang, bisa hidup lebih baik. Saya yakin Gidot yang merupakan putra asli Bengkayang dan masih muda, energik, bisa membawa perubahan bagi masyarakat,"harap Acam dalam perbincangan dengan KR di rumah pribadi Bupati Gidot.

Perayaan Pesta Padi Naik Dango Di Samalantan Tahun 2013

Minngu, 19 Mei 2013
Puas rasanya setelah seharian berkunjung ke rumah sanak saudara yang merayakan pesta naik dango, yaitu salah satu kebudayaan suku Dayak. Kita berkunjung hanya untuk menikmati hasil panen padi yang di dampingi dengan makanan khasnya berupa tumi, pulut, beserta sayur dan daging. Apa pun yang pasti rasanya enak sekali hehe :)
Setelah seharian jalan-jalan di kampung, nama kampung tersebut adalah Sibale salah satu desa tempat kelahiran ku :)
Tiba lah malam, dan pada malam itu ada acara di Rumah Panjang Samalantan, jam 20.00 kami tiba di lokasi, pas masuk sudah terlihat stand yang menjual khas kesenian yanng bermoif dayak, kami melihat-lihat dan tidak lupa kami berfoto-foto narsis :) (hihi biasalah alayers).
Lomba menyanyi juga di adakan dalam acara gawe naik dango tersebut, ada 25 peserta laki-laki maupun perempuan yang mengikuti lomba tersebut, dengan lagu wajib "Baju Merah"
 Kami menyaksikan secara langsung di iringi musik, ternyata suara-suara peserta yang asli orang dayak tersebut sangat bagus, saya pu kagum melihatnya.
Acara ini berakhir sampai tanggal 21 tepatnya hari selasa :)

Profil Kabupaten Bengkayang



Nama Resmi :Kabupaten Bengkayang
Ibukota :Bengkayang
Provinsi :Kalimantan Barat
Batas Wilayah:Utara: Kabupaten SambasSelatan: Kabupaten Landak dan Kota PontianakBarat: Laut Natuna dan Kota SingkawangTimur: Kabupaten Sanggau dan Serawak Malaysia
Luas Wilayah:
5.075,48 Km²
Jumlah Penduduk:
258.887 Jiwa 
Wilayah Administrasi
Website
:

:
Kecamatan: 17, Kelurahan: 2, Desa : 126

http://www.bengkayangkab.go.id
  

(Permendagri No.66 Tahun 2011)

Sejarah

Kabupaten Bengkayang pada masa penjajahan Belanda merupakan bagian dari wilayah Afdeling Van Singkawang. Pada waktu itu, dilakukan pembagian wilayah administrasi Afdeling yang daerah hukumnya meliputi:
  • Onder Afdeling Singkawang, Bengkayang, Pemangkat, dan Sambas (daerah Kesultanan Sambas)
  • Daerah Kerajaan/Panembahan Mempawah
  • Daerah Kerajaan Pontianak yang sebagian daerahnya adalah Mandor.
Setelah Perang Dunia II berakhir, daerah tersebut dibagi menjadi daerah otonom Kabupaten Sambas yang beribukota di Singkawang. Kabupaten Sambas ini membawahi 4 (empat) kawedanan, yaitu:
  • Kawedanan Singkawang
  • Kawedanan Pemangkat
  • Kawedanan Sambas
  • Kawedanan Bengkayang
Pada masa pemerintahan RI, menurut Undang-undang No. 27 tahun 1959 tentang penetapan Undang-undang Darurat No. 3 tahun 1953 mengenai pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan Barat (LNRI Nomor 72 tahun 1959, tambahan LNRI Nomor 1980), terbentuklah Kabupaten Sambas. Wilayah pemerintahan Kabupaten Sambas ini mencakup seluruh wilayah Kabupaten Bengkayang sekarang.
Dengan terbitnya Undang-undang Nomor 10 tahun 1999 tentang pembentukan Daerah Tingkat II Bengkayang, secara resmi mulai tanggal 20 April 1999, Kabupaten Bengkayang terpisah dari Kabupaten Sambas. Selanjutnya, pada tanggal 27 April 1999, Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah mengangkat Bupati Bengkayang pertama yang dijabat oleh Drs. Jacobus Luna. Pada waktu itu, wilayah Kabupaten Bengkayang ini meliputi 10 kecamatan.
Keberadaan Undang-undang Nomor 12 tahun 2001 tentang pembentukan Pemerintahan Kota Singkawang mengakibatkan Kabupaten Bengkayang dimekarkan kembali dengan melepas 3 kecamatan yang masuk kedalam wilayah pemerintahan kota Singkawang sehingga tinggal menjadi 7 kecamatan. Kemudian, pada tahun 2002, Kabupaten Bengkayang kembali  bertambah menjadi 10 keca-matan dengan pembentukan 3 kecamatan baru, yaitu: Kecamatan Monterado, Kecamatan Teriak, dan Kecamatan Suti Semarang. Pada awal tahun 2004, dari 10 kecamatan yang ada tersebut, Kabupaten Bengkayang dimekarkan lagi menjadi 14 kecamatan dengan 4 kecamatan barunya, yaitu: Kecamatan Capkala, Kecamatan Sungai Betung, Kecamatan Lumar, dan Kecamatan Siding. Pada tahun 2006, dari 14 kecamatan dimekarkan kembali menjadi 17 kecamatan. Tiga kecamatan yang baru terbentuk adalah Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kecamatan Lembah Bawang, dan Kecamatan Tujuh Belas.

Arti Logo

Lambang Kabupaten Bengkayang diambil dari berbagai potensi dengan makna sebagai berikut:
 a. Makna Warna
  • Hijau muda pada keseluruhan lambang daerah, hijau tua pada tangkai bunga kapas, dan dataran kaki gunung melambang kesuburan.
  • Kuning pada matahari dan petakan sawah melambangkan kematangan.
  • Kuning emas pada warna dasar pita bertuliskan "Kabupaten Bengkayang", tangkai padi, serta buah padi melambangkan masa keemasan.
  • Merah pada sebagian perisai dan pita pengikat padi dan kapas melambangkan keberanian.
  • Putih pada bunga kapas, sebagian perisai tangkitn, mata tombak, dan sebagian pita pengikat padi dan kapas melambangkan kesucian.
  • Biru pada gunung melambangkan keteduhan, ketenangan, atau kedamaian.
  • Hitam pada polisir bingkai lambang, lis pita, tulisan Kabupaten Bengkayang, angka "1999", gagang tombak, dan tangkitn melambangkan ketegasan dan kesatriaan.
 b. Makna Gambar
  • Matahari dengan tujuh belas pancarannya melambangkan tanggal tujuh belas sebagai tanggal kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  • Padi dan kapas melambangkan sandang dan pangan yang menggambarkan kemakmuran dan kesejahteraan yang menjadi tujuan seluruh masyarakat Kabupaten Bengkayang. Selain itu, kapas yang berjumlah delapan dan padi yang berjumlah empat puluh lima menggambarkan bulan dan tahun kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  • Perisai, tombak, dan tangkitn melambangkan ciri khas kebudayaan masyarakat Kabupaten Bengkayang.
  • Gunung melambangkan bahwa secara geografis, Kabupaten Bengkayang terletak di dataran tinggi sehingga terdapat banyak gunung dan bukit.
  • Petakan sawah sebanyak sepuluh bidang dan angka 1999 melambangkan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Bengkayang.
  • Pita dengan empat lipatan warna merah putih yang mengikat padi dan kapas melambangkan bulan April sebagai bulan ditetapkannya Undang-undang Nomor 10 Tahun 1999.
  • Lambang-lambang berwarna hijau muda menggambarkan bahwa wilayah Kabupaten Bengkayang merupakan daerah subur yang dapat membawa masyarakat Kabupaten Bengkayang mencapai masyarakat yang adil dan makmur.
  • Tulisan Kabupaten Bengkayang menunjukkan bahwa Kabupaten Bengkayang adalah salah satu wilayah dalam Provinsi Kalimantan Barat yang merupakan daerah otonom.
  • Semboyan "Adil Ka Talino" yang secara lengkap berbunyi "Adil Ka Talino, Bacuramin Ka Saruga, Basengat Ka Jubata" memiliki arti bahwa dalam memberikan pelayanan terhadap sesama hendaknya bersikap adil, setiap perbuatan dan tindakan yang dilakukan harus selalu mencerminkan kebaikan, serta selalu berpedoman kepada Tuhan.

Nilai Budaya

Wisata Budaya 
a. Rumah Adat Panjang Samalantan
Rumah Adat Panjang ini terletak di Kecamatan Samalantan (jalur Bengkayang – Singkawang), dapat ditempuh dengan menggunakan roda dua
dan roda empat ; dimana jarak dari Ibukota Bengkayang ± 37,39 KM. Selain sebagai tempat ritual masyarakat dayak pada saat naik dango yang biasa dilaksanakan pada tanggal 27 April tiap tahun, juga digunakan untuk obyek wisata.
Peluang usaha :
 b. Rumah Adat Baluk
    Rumah Adat Baluk ini terletak di Kecamatan Siding desa Hli Buei dusun Sebujit, jarak dari Ibukota Bengkayang ± 134 KM, dapat ditempuh dengan menggunakan motor air selama ± 2 jam ( 15 PK ). Rumah Adat ini gunakan oleh masyakat Suku Dayak Bidayuh dalam acara ritual tahunan (nibak’ng) yang dilaksanakan setiap tanggal 15 Juni, setelah usai musim menuai padi dan untuk menghadapi musim penggarapan ladang tahun berikutnya.
Peluang usaha :
Wisata Sejarah
a. Salip Raksasa
    Terletak ± 53,18 KM dari Ibukota Bengkayang tepatnya di Desa Monterado Kecamatan Monterado, lokasi wisata tersebut terletak disebelah danau Taipi, obyek wisata ini didirikan pada zaman penjajahan Belanda.
Peluang usaha :
b. Tiang Bendera Cina
    Terletak di Desa Monterado Kecamatan Monterado dan dapat dikunjungi dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat, tiang bendera cina ini didirikan pada tahun 1776 tepatnya pada zaman konfrontasi cina, obyek sejarah ini dari Ibukota Bengkayang ± 53,18 KM.
Peluang usaha :
c. Benteng Belanda
    Benteng ini dibangun oleh Belanda di puncak Gunung Vandreng dalam bentuk beton terowongan dengan kedalam ± 5 – 6 M. Obyek ini terletak dijalur Bengkayang – Singkawang dan dapat dikunjungi dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat dengan jarak tempuh dari Ibukota Bengkayang ± 17 KM.
Peluang usaha :
Goa Romo
    Terletak ± 51 KM dari Ibukota Bengkayang, obyek unggulan ini berupa goa alam dengan ciri khas ada kolam didalam goa tersebut ; dapat dikunjungi dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat.
Peluang usaha :